BBM NAIK! Ada Apa Ini?

Akhir-akhir ini banyak berita dari media yang menjurus tentang suatu permasalahan besar di negeri kita tercinta Indonesia, yaitu tentang masalah kenaikan BBM. Sudah beberapa kali Indonesia dihadang dengan isu permasalahan fluktuasi harga BBM. Ada apa dengan BBM? Mengapa ia mengalami fluktuasi harga yang cukup menyulitkan masyarakat dewasa ini?.

Pada dasarnya, ada banyak hal yang menjadi pertimbangan dan penyebab kenaikan harga BBM di Indonesia. Penyebabnya cukup komplikatif, karena berhubungan dengan sudut pandang politik, ekonomi, social, dan lainnya. Mengapa? Karena permasalahan kenaikan BBM adalah permasalahan yang saling menyambung kepada permasalahan lain yang lebih besar akibatnya. Ketika BBM melambung tinggi harganya, maka harga komoditas utama pun akan ikut meroket.

Ada beberapa hal yang menjadikan kebijakan untuk menaikkan harga BBM menjadi hal yang dijustifikasi pemerintah. Diantaranya adalah isu kenaikan harga minyak dunia yang semakin tinggi dikarenakan semakin menipisnya persediaan minyak di dunia, kemudian disusul dengan isu bahwa tidak meratanya subsidi BBM yang diberikan pemerintah.

Isu yang pertama adalah mengenai alasan bahwa persediaan minyak dunia semakin menipis yang dijustifikasi pemerintah untuk menaikkan harga BBM. Dewasa ini, isu tersebut masih dipercaya banyak orang bahkan para ahli yang berkepentingan di bidang ini. Benarkah? Mari kita lihat dari pandangan sejarah penemuan minyak bumi di dunia. Hipotesis tentang minyak bumi dirilis oleh Mikhael V Lomonosov, seorang ilmuwan Rusia di tahun 1757,menerangkan bahwa minyak bumi berasal dari sisa-sisa makhluk hidup. Namun beberapa ilmuwan pada abad ke 19 mulai meniti kembali hipotesis Lomonosov. Adalah Alexander V Humboldt, orang yang pertama kali menolak pemikiran Lomonosov yang telah bertahan selama hampir 250 tahun. Humboldt dibantu oleh ahli kimia termodinamika perancis, Louis Joseph Gay-Lussac, yang kemudian mereka mengajukan dalil alternative yang menyatakan minya bumi berasal dari materi purba yang memancar dari tempat yang dalam, dan tidak berhubungan dengan materi biologis dalam permukaan bumi. Hal ini diperkuat di tahun 1850, Marcellin Berthelot, ilmuwan yang dikenal melakukan percobaan reaksi Kolbe, yang menyatakan bahwa minyak bumi bisa dihasilkan dengan cara melarutkan baja dan asam kuat tanpa melibatkan material biologis. Di akhir abad 19, Dmitri Mendeleev, ilmuwan Rusia, juga menolak hipotesis Lomonosov yang juga menyatakan bahwa minyak bumi berasal dari materi primordial yang dalam. Dan ditahun 1951, Nikolay Kudryavtsev dibantu rekan-rekannya Thomas Gold dan JF Dr Kenney benar-benar mampu membangun reactor dan membuktikan bahwa Minyak Bumi berasal dari Kalsium Karbonat dan Oksida Besi. Penelitian terbaru dari Vladimir Kutcherov dari Royal Institute of Technology di Stockholm Swedia membuktikan bahwa sesungguhnya minyak bumi tidak akan pernah habis, ia mampu membuktikan bahwa hidrokarbon, bahan utama minyak bumi dan gas alam dapat dibuat dari air, kalsium karbonat, dan besi. minyak bumi dapat ditemukan di batuan yang berfungsi sebagai reservoir minyak. Hal ini semakin memperkuat bahwa minyak bumi merupakan energy terbarukan. Jadi, isu minyak bumi yang akan habis adalah hal yang perlu dipertanyakan lagi, benarkah karena masalah supplai minyak bumi yang habis? Atau ini adalah cara Negara-negara adidaya untuk mengontrol dunia? Wallahu a’lam

Selanjutnya adalah isu mengenai subsidi BBM yang salah sasaran, karena ia tidak dinikmati semuanya oleh orang-orang yang tidak mampu. Namun hal ini sarat dengan sangsi masyarakat. Yang menjadi pertanyaan adalah mengenai kenaikan harga BBM yang katanya dikarenakan subsidi BBM tidak tepat sasaran, namun mengapa harga BBM naik, anggaran subsidi untuk BBM juga ikut naik? Hal ini yang menjadi sesuatu yang tidak masuk akal yang terus menjadi justifikasi pemerintah untuk mengatur fluktuasi harga BBM. Subsidi BBM tahun ini naik dari 194 Triliun menjadi 210 Triliun. Logikanya, ketika harga BBM naik, berarti subsidi BBM dikurangi, dan hasilnya anggaran subsidi BBM harusnya turun. Inilah hal yang tidak masuk akal yang terus dilakukan pemerintah.

Isu lain yang mungkin terjadi adalah masalah BBM yang dipolitisasi untuk kepentingan pihak yang tidak bertanggung jawab. Hal ini dikarenakan isu BBM sarat dengan kepentingan politik pihak tertentu. Kenaikan BBM seolah menjadi syarat politisasi menjelang Pemilu 2014. Fluktuasi harga BBM sering terjadi di Indonesia ketika menjelang pemilu. Sehingga wajar, apabila isu ini kental dengan alasan politis dibanding dengan alasan secara ekonomi. Contoh politisasi adalah janji pemerintah untuk pemberian dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) jika BBM dinaikkan, ini merupakan salah satu contoh politisasi isu. Di sisi lain, isu kenaikan BBM bisa menjadi alat bagi partai politik tertentu untuk melakukan usaha-usaha untuk memperoleh simpati dari masyarakat mengingat Pemilu 2014 akan diadakan tidak lama lagi. Hal ini dapa dilakukan partai politik dengan cara menunjukkan rasa ketidaksetujuannya tentang kenaikan harga BBM dengan mengatasnamakan partai seperti yang sudah dilakukan beberapa partai yang memiliki ambisi yang besar dan panas untuk mendapatkan suara banyak dalam Pemilu nanti.

Kenaikan BBM merupakan masalah yang selalu dibahas dan selalu mempengaruhi banyak sector di Indonesia. Bagaikan permainan kartu domino bersusun, masalah BBM selalu dipengaruhi oleh hal-hal lain oleh orang-orang yang berkepentingan khusus. BBM Naik? Ada Apa Ini?

Oleh : Muhammad Syarif