“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan segala yang tidak bermanfaat untuknya” (HR. Tirmidzi).
Hadist di atas menunjukkan betapa ‘segala yang tidak bermanfaat’ itu memang seharusnya kita tinggalkan. Namun disadari maupun tidak, banyak sekali perbuatan kita sehari-hari yang tergolong perbuatan yang sia-sia. Perbuatan sia-sia yang biasa kita lakukan sehari-hari antara lain ialah, membicarakan orang lain atau bahasa gaulnya menggosip, melamun, tidur yang berlebihan, menonton acara-acara yang tidak bermanfaat baik melalui tv maupun secara langsung dan juga kebiasaan konsumtif. Lalu bagaimanakah cara kita menjauhkan diri dari perbuatan yang sia-sia? Paling utama ialah dengan meningkatkan keimanan kita. Karena walaupun dalam bahasa yang sederhana, takwa diartikan sebagai melaksanakan yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Namun, sesungguhnya makna dari takwa itu terkandung dua hal, yaitu kontrol diri dan untuk selalu mengingat Allah dalam segala situasi dan kondisi. Sehingga secara tidak langsung akan menimbulkan sifat kehati-hatian pada seorang muslim. Berkaitan dengan menghidupkan sifat kehati-hatian ini, Allah Swt. kemudian mempertajam definisi takwa sebagai usaha untuk menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna atau sia-sia, seperti yang telah Allah firmankan dalamsuratAl-Mu’minuun:3.
Perbuatan sia-sia ini juga berbanding lurus dengan kemaksiatan. Karena Ada beberapa hal yang mendorong seseorang berbuat maksiat. Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda yang artinya:
“Jauhilah tiga perangai karena menjadi pangkal segala kemaksiatan. Sikap takabur; iblis membangkang kepada Allah yang memerintahkannya bersujud di hadapan Adam dikarenakan sikap takabur, dan Allah mengutuk serta menjauhkannya. Perbuatan Tamak; Nabi Adam terpengaruh olehnya demi mencicipi ‘buah terlarang’. Sifat Dengki, Qabil membunuh saudaranya sendiri, Habil karena sifat ini. Seseorang pendengki telah ingkar kepada Allah karena dengannya ia tidak ridho terhadap ketentuan Allah. Ketahuilah sesungguhnya pendengki tidak akan beruntung.“
Selain tiga hal yang sudah dijelaskan di atas oleh Rasulullah saw. di dalam sabdanya tersebut, masih ada beberapa hal yang mendorong seseorang berbuat maksiat. Dari Abu Abdillah, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Ada enam perkara yang menjadi penyebab kemaksiatan kepada Allah: cinta dunia, cinta kedudukan, suka makan, suka tidur, suka bersantai, dan suka kepada wanita.“
Cinta dunia yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah segala sesuatu yang hanya berorientasi dan bertujuan kepentingan duniawi saja. Dunia ini telah menyebabkan banyak orang lalai hatinya dan melupakan akhirat, dan cinta dunia merupakan pangkal segala kejahatan dan kemaksiatan. Bahkan segala problematika kehidupan di dunia dan di akhirat.
Wallahu a’lam
Karya : Afina (Syiar INSANI)